JEJAKA-Jejak Jejak Kapmepi

Foto saya
Yogyakarta, Indonesia
Kami adalah sebuah wahana dan forum, tempat menampung para pemuda Luar Biasa di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta... Kami Bernama Kapmepi (Kader Pengembang Moral Dan Etika Pemuda Indonesia)
Tampilkan postingan dengan label Artikel Kepemudaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Kepemudaan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Januari 2010

Pemuda

Pemuda adalah generasi penerus bangsa. Keabsahan slogan ini tidak terbantahkan karena mau tidak mau, sanggup atau tidak sanggup, pemudalah yang akan menggantikan kedudukan generasi-generasi sebelumnya dalam membangun bangsa. Selain itu, pemuda sudah sepantasnyalah menjadi agent of change, pembawa perubahan, yang membawa bangsa ini menjadi lebih baik, lebih bersatu, lebih makmur, lebih demokratis, dan lebih madani. Inilah kira-kira peran pemuda yang seharusnya dapat diwujudkan bersama.
Menilik sejarah, pada awal abad ke-20 Indonesia diwarnai oleh pergerakan kebangsaan yang tidak lain dimotori oleh para pemuda pada zaman itu. Sejarah mencatat Budi Utomo sebagai organisasi pertama yang mengubah watak pergerakan perlawanan, yang semula bersifat kedaerahan menjadi bersifat kebangsaan. Bangsa Indonesia disadarkan bahwa untuk dapat mencapai kemerdekaan, seharusnnya ada persatuan dan perasaan senasib yang melandasi perlawanan terhadap penjajah.Setelah dipelopori Budi Utomo sebagai organisasi kebangsaan pertama, bermunculanlah sekian banyak organisasi kebangsaan lainnya. Muhammadiyah, NU, Serikat Dagang Indonesia, Taman Siswa, sampai dengan PNI sebagai partai pertama yang dimiliki bangsa ini adalah contohnya. Kesemuanya memiliki orientasi dan cita-cita yang sama, persatuan dan kemerdekaan Bangsa Indonesia.
Sampai pada hari yang sangat menentukan bagi masa depan Bangsa Indonesia, 28 Oktober 1928 Kongres Pemuda II diselenggarakan di Jakarta. Kongres ini setidaknya menghasilkan tiga point penting, yakni kesadaran berbangsa Indonesia, bertanah air Indonesia, dan berbahasa nasional, Bahasa Indonesia. Inilah moment dimana semangat nasionalisme dikobarkan dan sedikit demi sedikit perasaan kedaerahan yang berlebihan dikikis dan diminimalkan. Inilah akselerator perjuangan perlawanan terhadap penjajah yang akhirnya mencapai titik kulminasinya melalui proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945. Inilah keadaan pemuda pada zaman pergerakan, hampir satu abad yang silam. Sekarang??Sebuah angket mengenai penghayatan makna sumpah pemuda yang diselenggarakan sebuah media terkemuka menggambarkan betapa minimnya penghayatan terhadap nilai-nilai sumpah pemuda. Ketika ditanya tentang apa itu sumpah pemuda, Suprapto (17), siswa kelas II Sekolah Menengah Umum (SMU) Muhammadiyah 6 Surabaya mengutarakan ”Dari pelajaran sejarah di sekolah sejak SD memang saya tahu kalau tanggal 28 Oktober diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda. Namun, hanya tahu sebatas tanggal saja. Selebihnya saya tidak tahu,”Ironi memang melihat fenomena ini, tapi itulah yang terjadi.
Pemuda pada zaman sekarang seolah-olah tidak mewarisi semangat nasionalisme yang didengung-dengungkan Sukarno, Hatta, Syahrir dan banyak tokoh-tokoh pemuda lainnya beberapa dasawarsa silam. Agaknya, tidak salah jika sebagian orang mengatakan bahwa nasionalisme pemuda kita telah berubah menjadi materialisme dan hedonisme, patriotisme telah berubah menjadi apatisme. Fenomena ini dapat kita tangkap dari keengganan sebagian pemuda kita untuk memikirkan masalah kebangsaan. “Jangankan soal kebangsaan, untuk masalah yang ada di sekitarnya saja banyak yang tidak peduli. Untuk berorganisasi di tingkat sekolah saja susah mengajak dan melibatkan mereka. Yang dipikirin cuma bersenang-senang dan kepentingannya sendiri,” ujar Savitri (16), siswa kelas II SMK Ketintang I Surabaya ketika ditanya tentang keadaan pemuda di sekolahnya.
Banyak sebab yang menjadi pemicu lunturnya semangat kebangsaan yang merupakan warisan para pendahulu Republik ini. Salah satunya adalah kejenuhan para pemuda dalam memandang wacana kebangsaan yang dikumandangkan elite polotik kita. Mereka melihat tidak adanya figur teladan yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi perbaikan keadaan bangsa.Selain itu, sebab lainnya adalah tidak adanya kepercayaan dari golongan tua kepada golongan muda untuk mengadakan transfer ilmu, pengalaman dan kewenangan. Banyak kaum muda yang merasa bahwa kemampuan mereka dalam suatu bidang kurang bisa ditampilkan secara maksimal oleh karena tidak adanya kesempatan untuk menduduki posisi yang penting dalam menentukan kebijakan di negeri ini. Sebagian besar elit politik kita masih memegang paradigma lama yang kurang menghargai profesionalisme dan lebih mementingkan koneksi.
Sebagian besar pemuda, putra-putri terbaik bangsa yang berprestasi dan kemudian mendapat beasiswa ke luar negeri merasa bingung ketika lulus. Mereka dihadapkan kepada pilihan bekerja di luar negeri dan hidup sejahtera atau pulang ke Indonesia dan hidup seadanya (kalau tidak ingin disebut menderita). Hal ini karena minimnya penghargaan (terutama dalam bentuk gaji) negara terhadap profesional ini. Oleh karena itu, banyak dari mereka yang memilih untuk bekerja di luar negeri dan lupa berkontribusi terhadap negara.
Dihadapkan pada masalah tersebut, kita seyogianya dapat memandang secara arif bijaksana untuk kemudian menyelesaikannya. Sudah saatnya kita memiliki figur elit politik yang benar-benar mampu berkontribusi secara nyata-tidak sekedar wacana-terhadap proses perbaikan bangsa dan yang sadar akan pentingnya regenerasi, sehingga lebih memberkian tempat bagi kaum muda untuk dapat berperan sesuai kompetensinya dalam menentukan arah kebijakan negara.
Dari sudut pandang pemuda, seharusnya pemuda lebih mengetahui perannya sebagai agen perubahan ke arah yang lebih baik. Pemuda harus lebih memupuk rasa cinta tanah airnya dan meningkatkan kemampuannya sesuai dengan kapasitasnya, sehingga mampu untuk memperbaiki keadaan bangsa, mewujudkan cita-cita besar sumpah pemuda sesuai kompetensinya masing-masing.
Dari contoh kasus beasiswa ke luar negeri yang diterima sebagian pelajar kita misalnya, belajar dari China seharusnya ketika lulus mereka mencari pengalaman terlabih dahulu di perusahaan luar negeri. Baru setelah merasa cukup berpengalaman, mereka pulang untuk berkontribusi membangun Indonesia sesuai kompetensinya masing-masing. Untuk itu, perlu kesiapan dari para generasi tua untuk mengubah paradigma berpikir dan kemudian memberi kewenangan kepada generasi muda untuk berkarya. Selain itu, negara kita harus memiliki kebijakan yang berorientasi pada kemajuan pendidikan dan riset. Karena dari segi itulah kaum muda dapat berperan.

Jumat, 15 Januari 2010

Potensi Pemuda


Berbagai hal menyangkut perubahan, selalu dikaitkan peranan pemuda. Sejarah membuktikan itu. Di berbagai belahan dunia, perubahan sosial-politik menempatkan pemuda di garda depan. Peranannya menyeluruh, tak hanya mata air, tapi juga hulu, hilir sampai muara, bahkan pemuda sebagai air atau sumber energi perubahan. Tak tanggung-tanggung pemimpin besar seperti Bung Karno (Presiden RI Pertama) mengungkapkan kata-kata pengobar semangat “Berikan aku 100 orang tua, maka akan kupindahkan Mahameru. Tapi berikan aku 10 pemuda maka akan kuguncang dunia. Begitu besarkah potensi pemuda? Tidak dapat disangkal lagi, kualitas generasi muda kita merupakan cerminan masa depan bangsa. Suatu bangsa yang gagal membina generasi muda – baik dari segi moralitas maupun kapabilitas – akan menjadi bangsa pecundang di kemudian hari.

Negara-negara maju di dunia sangat khawatir dengan kelanjutan masa depan negara mereka. Apalah artinya kemajuan ekonomi, kecanggihan teknologi, kekuatan militer, dan kepemimpinan atas dunia sementara generasi mudanya sedemikian rusak moralnya, bodoh, dan tidak bisa diharapkan di masa depan. Bayang-bayang kemunduran atau bahkan kepunahan sebagai bangsa tampak begitu mencekan dan menakutkan.

Bangsa kita pun juga dihadapkan pada masalah besar saat ini. Generasi muda kita tengah terjebak dengan berbagai masalah seperti narkoba, tawuran, seks bebas, budaya permissive yang kebablasan, kualitas SDM yang rendah. Selain itu korupsi dan kolusi yang merajalela, main mata penguasa dan pengusaha, kemaksiatan yang merata, dan intervensi asing yang leluasa, telah menegasikan keadilan dan melumpuhkan sendi-sendi perekonomian bangsa. Saat ini kita seakan menemui kebuntuan dalam menentukan solusi yang terang.

Kebuntuan ini bukan berarti kita tidak melakukan apa-apa. Ada kerja besar yang harus dilakukan untuk sebuah perubahan besar di masa depan. Melahirkan generasi baru yang sama sekali berbeda. Menanamkan keimanan dalam lubuk hati mereka yang paling dalam. Menumbuhkan ilmu pengetahuan di sel-sel otak mereka yang cerdas dan gemilang. Mengarahkan potensi generasi muda agar terarah dan berkembang.

Berbagai elemen bangsa harus bangkit dan saling bahu-membahu untuk mengembangkan berbagai program pembinaan generasi muda yang bermuara pencapaian kualitas iman dan takwa serta penguasaan ilmu pengetahun dan teknologi yang mumpuni. Maka kerja besar membangun peradaban besar sedang dimulai..

Kamis, 31 Desember 2009

Memaknai Tahun Baru bagi Pemuda




Baru Saja kita memasuki tahap akhir kita menjalani kehidupan di Tahun 2009.
Kita dapat berpikir, setiap malam tahun baru, yang dirayakan dengan hura-hura itu benarkah tidak mengandung arti apa-apa? …


Tahun baru, sebagai pertanda bahwa kesempatan hidup kita sudah berkurang setahun ! Kita bisa menganalogikan, apabila kita kehilangan uang 100.000, pasti stress bukan ?!!!

Tapi berbeda dengan uang yang masih bisa dicari. But Age? Your breath? Your life? Something lost and can’t be taken back anymore… usia yang hilang (mungkin dengan sia-sia) tidak bisa didapati lagi. Tapi kenapa dirayakan dengan pesta pora yang berlebihan??
* Ada sedikit titik tekan, "berlebihan"..

Gembira tiada salahnya, dengan membunyikan petasan pun, sekedar untuk meluapkan kegembiraan, sah sah saja, namun , memaknai pergantian tahun dengan bersedih adalah lebih baik. Karena dengan demikian, kita akan menjadi semakin baik dan bijak, karena selalu saja ada introspeksi berkelanjutan yang kita lakukan. Terlebih, Kita sebagai..PEMUDA

  • Tahun ini (2009) ‘tlah berlalu, laksana anak panah terlepas dari busurnya. Fajar baru di tahun yang akan datang, semoga menjadi lembaran baru yang lebih baik. Selamat tahun baru 2010, semoga lebih maju dan sukses.
  • Serpihan malam bulan separuh, jelang hari baru pertanda tiba. Kembang api membuncah ke angkasa sambut tahun muda 2010. Selamat tahun baru 2010, semoga lebih baik dibanding tahun sebelumnya.
  • Waktu terus berlalu, lembaran demi lembaran telah dilalui. Coretan demi coretan telah memenuhi, kadang tak berarti, kadang tanpa makna, atau hanya sedikit makna. Semoga di tahun ini setiap lembaran memiliki makna, setiap lembaran bermanfaat. Selamat tahun baru 2010. Semoga lebih sukses.
  • Tahun ini hampir usai terlalui, belumlah tergores coretan berarti, belumlah setiap gagasan menjadi nyata, konsep masih terdokumenkan. Padahal telah berada dipenghujung, meski akan terlewati, semoga ada perubahan, dalam lembaran baru. Selamat tahun baru 2010
  • Matahari menyelinap dibalik bukit, sembunyikan kenangan hidup, menyimpan lembaran usang, menyambut hari-hari muda, sebentar lagi ‘kan menjelang. Selamat datang tahun baru 2010, harapan baru dan perubahan.
  • Masa lalu adalah sejarah, hari ini adalah goresan, hari esok adalah harapan. Selamat datang tahun baru 2010. Seiring dengan perginya kenangan, menyambut harapan. Selamat tinggal kenangan, selamat datang harapan.
  • Malam ini ‘kan berlalu, minggu ini ‘kan beranjak, bulan ini akan pergi, tahun ini ‘kan meninggalkan. Sejarah kehidupan, catatan suka dan duka, menyongsong tahun baru. Selamat tahun baru 2010. Semoga selalu jaya dan sejahtera.
  • Senja indah, kirimkan ciprat keemasan, kirimkan pertanda keagungan, kekusaan, serta kemegahan. Meski itu hanya sekejap, hingga sirna ditepis malam, pertanda esok akan tiba. Selamat tahun baru 2010. Semoga sukses selalu.



* divisi Media Opini-Kapmepi Yogyakarta
(admin : sk)

Selasa, 29 Desember 2009

Pesona Muda


Satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa Indonesia. Demikian bunyi sumpah yang di kukuhkan oleh para pemuda dalam mempersatukan bangsa dan juga cikal bakal pembentukan negara kesatuan RI di tanggal 28 Oktober 1928 yang sekarang ini dikenal dan diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda. Gaung sumpah pemuda itu memang mampu menginspirasi gerakan para pejuang bangsa sehingga mereka memiliki tekad dan semangat pantang mundur untuk membela bangsa dan tanah air. Dan kemerdekaan RI yang berhasil diraih pada tanggal 17 Agustus 1945 tentunya tak lepas dari gaung sumpah pemuda ini. Sebagai pemuda yang hidup di era globalisasi saat ini sudah sepantasnya kita meneruskan cita-cita para pencetus sumpah itu, karena nilai sejarah perjuangan tak bisa dilepaskan dari peran serta pemuda. Pastinya kamu telah mempelajari sejarah dan pernah mendengar tentang devide et impera, suatu jenis politik yang dicanangkan oleh Belanda untuk mencerai beraikan bangsa ini, hingga lahirlah Sumpah Pemuda itu yang menjadi roh pemersatu bangsa.

Peringatan Sumpah Pemuda barangkali bisa dijadikan momentum untuk melakukan sumpah untuk bangsa dan negara Indonesia. Mencermati kondisi bangsa yang semakin lama semakin memperhatikan saat ini kita sebagai pemuda Indonesia perlu bersumpah untuk memiliki kesadaran yang tinggi untuk penyelamatan negara. Apa sajakah bentuk tindakan untuk menyelamatkan negri tercinta ini. Bagaimana mengembalikan predikat sebagai bangsa yang baik yang tidak korup di mata dunia internasional, walaupun sudah terlambat tetapi seyogyanya sebagai pemuda bangsa kita harus bersikeras melawan korupsi yang sudah bersemayam dalam jiwa, lakukan dengan sungguh-sungguh tidak hanya sekedar wacana saja.

Saat ini perkembangan zaman sungguh luar biasa apabila tidak didukung dengan adanya moral, mental dan ikhtiar serta doa, kehidupan kita akan terbelenggu dengan kehidupan hedonis atau materialistis. Akan dibawa kemanakah nantinya para pemuda Indonesia apabila sudah tak mampu lagi menepis godaan duniawi, sudah tidak mampu lagi menghargai vitalitas hidup apalagi memiliki rasa nasinalisme lagi.

Letakkan supremasi hukum diatas segalanya karena apabila hukum sudah tidak dihormati lagi sudah tidak di takuti lagi, pastinya makin merajalela saja pelanggaran-pelanggaran yang merugikan masyarakat dan negara.

Bertindak bukan untuk kepentingan diri sendiri tetapi untuk kepentingan masyarakat luas, jangan dibalik mengatasnamakan rakyat tapi untuk kepentingan sendiri. Sudah menjadi kewajiban utama siapapun yang berkuasa senantiasa harus memihak rakyat, karena rakyat adalah pemegang kedaulatan tertinggi, dari rakyat dan untuk raykat.

Mulai saat ini teman-teman kawula muda sudah tidak ada lagi waktu untuk bermalas-malasan apalagi bermanja-manja, belajar dan belajar, jadikan pengalaman kehidupan yang sudah ada untuk kalian jadikan cermin dalam melangkah membangun negri tercinta kita Indonesia. Berikan contoh dan hasil perjuangan kalian untuk generasi yang akan datang nantinya. Selamat berjuang teman...Hidup Pemuda Indonesia!




Pemuda Majuu...
Olah Raga Jayaa
Siapa Kita..?

INDONESIA ..